Di pos "Modal Awal Main Saham" saya tulis bahwa Gerald Loeb menyarankan pemula untuk mulai main saham dengan modal relatif kecil dari total modal yang dimiliki.
Mengapa?
Kata Gerald Loeb:
A backlog of cash is a great help in meeting emergencies and in freeing one's judgment so that commitmentss are opened and closed for financial cause and not affected by need, fear, greed, or other human failings which are fatal to profitable security investment.
Persedian uang tunai yang banyak akan membantu anda berpikir dengan jernih sehingga aksi anda membeli atau menjual saham adalah berdasarkan keputusan tanpa dipengaruhi perasaan takut, serakah, ataupun sifat-sifat manusia lainnya yang bisa berakibat fatal saat berinvestasi saham.
Jadi, dengan memakai modal relatif kecil dari total modal anda tidak akan stress kalau harga saham turun banyak dan anda berpotensi rugi. (Okelah, kalaupun stress, stressnya seharusnya tidak berat-berat banget sampai terpikir mau bunuh diri.)
Mengapa?
Karena kerugian ini relatif kecil dengan total modal yang anda miliki.
Dengan modal relatif kecil, anda pun bisa lebih santai saat harga saham naik dan tidak terburu-buru menjual karena takut keuntungan akan hilang kalau saham tiba-tiba turun.
Mengapa?
Karena keuntungan ini relatif kecil dibanding total modal yang anda miliki.
Dengan kata lain, kalau anda tidak dibayangi rasa takut, rasa serakah, lebih besar kemungkinan anda melaksanakan jual-beli saham sesuai dengan Rencana Trading (Trading Plan) yang sudah anda tentukan sejak awal.
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Sunday, July 26, 2020
Sunday, June 28, 2020
Modal Awal Main Saham
Gerald Loeb menyarankan pemula agar memulai main saham dengan modal kecil relatif terhadap total modal yang dimiliki.
Tulis Gerald Loeb:
I suggest that at the start the size of commitments in one sense be kept small—that is, the relationship of funds employed to total capital.
Artinya, kalau anda punya total uang investasi Rp 100 juta, jangan langsung cemplungkan Rp 100 juta untuk main saham.
Mulailah dulu dengan Rp 10 juta, atau Rp 5 juta, atau bahkan Rp 1 juta.
Dan yang paling penting, JANGAN belajar main saham dengan duit pinjaman.
Jangan. Jangan. JANGAN.
Artinya juga, JANGAN pakai fasilitas margin (pinjam uang) dari broker anda.
Belajar main saham boleh dilakukan hanya kalau anda punya uang "lebih." Kalau belum punya uang "lebih," jangan mulai main saham.
Setelah berpengalaman main saham 1-2 tahun dan sudah konsisten tidak rugi banyak, silahkan tambahkan modal anda secara bertahap.
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Tulis Gerald Loeb:
I suggest that at the start the size of commitments in one sense be kept small—that is, the relationship of funds employed to total capital.
Artinya, kalau anda punya total uang investasi Rp 100 juta, jangan langsung cemplungkan Rp 100 juta untuk main saham.
Mulailah dulu dengan Rp 10 juta, atau Rp 5 juta, atau bahkan Rp 1 juta.
Dan yang paling penting, JANGAN belajar main saham dengan duit pinjaman.
Jangan. Jangan. JANGAN.
Artinya juga, JANGAN pakai fasilitas margin (pinjam uang) dari broker anda.
Belajar main saham boleh dilakukan hanya kalau anda punya uang "lebih." Kalau belum punya uang "lebih," jangan mulai main saham.
Setelah berpengalaman main saham 1-2 tahun dan sudah konsisten tidak rugi banyak, silahkan tambahkan modal anda secara bertahap.
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Wednesday, May 27, 2020
Tentukan Risk-Reward Ratio Sebelum Membeli Saham
Kata Gerald M. Loeb:
In considering a commitment a clear idea should be had of the levels at which one expects to close it out either at a profit or at a loss. Obviously, if one anticipates making only a very small amount, one's chances of being successful are rather small.
Saat anda mempertimbangkan untuk membeli saham, anda harus tahu jelas di harga berapa anda akan menjual untung/rugi saham tersebut. Kalau anda mengharapkan untung kecil, kecil kemungkinan anda untuk sukses.
Menurut saya yang dimaksud Gerald Loeb adalah sebagai berikut:
Misalkan anda berniat membeli saham EXCL seharga Rp 1.000.
Nah, sebelum membeli saham tersebut anda wajib menentukan harga jual kalau rugi (cut-loss) dan harga jual kalau untung.
Katakanlah anda hanya bersedia rugi Rp 50. Artinya, anda akan cut-loss EXCL kalau turun ke harga 950. Katakanlah juga anda berharap EXCL bisa naik ke harga 1.200 dan anda akan jual di harga tersebut.
Jadi dengan kata lain, anda bersedia untuk ambil resiko rugi 5% untuk mencoba meraih kemungkinan untung 20%.
Nah, yang ditekankan Gerald Loeb adalah anda berharap bisa untung 20%.
Bukan 1%. Bukan 2%. Bukan 5%.
Intinya, anda harus berusaha mencari POTENSI UNTUNG yang (relatif) besar dibandingkan resiko yang siap anda tanggung.
Harus saya ingatkan bahwa yang namanya "potensi untung" itu belum tentu jadi kenyataan.
Tapi kalau anda selalu membeli saham dengan potensi untung lebih kecil dari resiko, kecil kemungkinan anda akan meraih untung bermain saham.
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
In considering a commitment a clear idea should be had of the levels at which one expects to close it out either at a profit or at a loss. Obviously, if one anticipates making only a very small amount, one's chances of being successful are rather small.
Saat anda mempertimbangkan untuk membeli saham, anda harus tahu jelas di harga berapa anda akan menjual untung/rugi saham tersebut. Kalau anda mengharapkan untung kecil, kecil kemungkinan anda untuk sukses.
Menurut saya yang dimaksud Gerald Loeb adalah sebagai berikut:
Misalkan anda berniat membeli saham EXCL seharga Rp 1.000.
Nah, sebelum membeli saham tersebut anda wajib menentukan harga jual kalau rugi (cut-loss) dan harga jual kalau untung.
Katakanlah anda hanya bersedia rugi Rp 50. Artinya, anda akan cut-loss EXCL kalau turun ke harga 950. Katakanlah juga anda berharap EXCL bisa naik ke harga 1.200 dan anda akan jual di harga tersebut.
Jadi dengan kata lain, anda bersedia untuk ambil resiko rugi 5% untuk mencoba meraih kemungkinan untung 20%.
Nah, yang ditekankan Gerald Loeb adalah anda berharap bisa untung 20%.
Bukan 1%. Bukan 2%. Bukan 5%.
Intinya, anda harus berusaha mencari POTENSI UNTUNG yang (relatif) besar dibandingkan resiko yang siap anda tanggung.
Harus saya ingatkan bahwa yang namanya "potensi untung" itu belum tentu jadi kenyataan.
Tapi kalau anda selalu membeli saham dengan potensi untung lebih kecil dari resiko, kecil kemungkinan anda akan meraih untung bermain saham.
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Subscribe to:
Posts (Atom)


