Nothing is more difficult, I truly believe, than consistently and fairly profiting in Wall Street. I know of nothing harder to learn...
Tidak ada yang lebih sulit daripada meraih untung secara konsisten di bursa saham.
Into this field the outsider turns for quick and easy profit, or a high income, or a haven of safety. On the average, he gives it less thought than most of his activities, and he is usually careless as to whom he consults or through whom he deals. Frequently he fails to distinguish between results obtained by chance and those secured through knowledge...
Orang awam mengharapkan keuntungan cepat dan mudah dan penghasilan besar dari bursa saham. Umumnya ia hanya meluangkan sedikit waktu dan pikiran untuk hal ini dibanding aktivitas lainnya. Dan ia biasanya ceroboh memilih siapa yang ia percaya. Seringkali ia tidak bisa membedakan antara hasil yang didapat semata-mata karena beruntung dengan hasil yang didapat karena ia benar-benar tahu apa yang ia lakukan.
Knowledge born from actual experience is the answer to why one profits; lack of it is the reason one loses. Knowledge means information and the ability to interpret it marketwise.
Pengetahuan yang didapat dari pengalaman adalah jawaban mengapa seseorang meraih untung; kurangnya pengetahuan adalah alasan mengapa seseorang merugi. Pengetahuan berarti informasi dan kemampuan meng-interpretassi informasi tersebut ke dalam konteks bursa (saham).
--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Tuesday, June 11, 2019
Saturday, May 11, 2019
Diversifikasi Portofolio Investasi. Perlukah?
Most of today's advisors are telling us to diversify into stocks, bonds, foreign stocks, and perhaps gold, to spread the risk; Loeb tells us to put all eggs in one basket and watch the basket. On this point, he and Buffet agree: it's most profitable to own a few stocks than to diversify for the sake of diversity. "The great fortune," Loeb notes, "are made by concentration."
Mayoritas penasehat (keuangan) menyarankan kita untuk mendiversifikasi (investasi) ke saham, obligasi, saham luar negeri, dan emas, untuk menyebar resiko; Loeb menyarankan kita untuk menempatkan semua telur di dalam satu keranjang dan menjaga keranjang tersebut. Untuk poin ini, Loeb dan Buffet setuju: adalah lebih menguntungkan memiliki beberapa saham daripada mendiverfikasi (ke banyak saham) hanya semata-mata untuk diversifikasi. "Kekayaan besar," kata Loeb, "adalah hasil dari konsentrasi."
If the market conditions aren't favorable, Loeb sits on his cash for long periods—"it's far better," he says, "to let cash sit idle than to invest it for income."
Kalau kondisi pasar tidak bagus, Loeb memegang uang tunai dalam waktu lama—"lebih baik," kata Loeb, "untuk membiarkan uang tunai duduk santai daripada menginvestasikannya."
--John Rothchild di Foreword buku The Battle for Invesment Survival
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Mayoritas penasehat (keuangan) menyarankan kita untuk mendiversifikasi (investasi) ke saham, obligasi, saham luar negeri, dan emas, untuk menyebar resiko; Loeb menyarankan kita untuk menempatkan semua telur di dalam satu keranjang dan menjaga keranjang tersebut. Untuk poin ini, Loeb dan Buffet setuju: adalah lebih menguntungkan memiliki beberapa saham daripada mendiverfikasi (ke banyak saham) hanya semata-mata untuk diversifikasi. "Kekayaan besar," kata Loeb, "adalah hasil dari konsentrasi."
If the market conditions aren't favorable, Loeb sits on his cash for long periods—"it's far better," he says, "to let cash sit idle than to invest it for income."
Kalau kondisi pasar tidak bagus, Loeb memegang uang tunai dalam waktu lama—"lebih baik," kata Loeb, "untuk membiarkan uang tunai duduk santai daripada menginvestasikannya."
--John Rothchild di Foreword buku The Battle for Invesment Survival
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Sunday, April 28, 2019
Analisa Saham a la Benjamin Graham. Perlukah?
This idea that owning stocks in good companies will pay off eventually has become an article of faith for modern investors, big and small. Loeb disagrees with it.
Ide memegang saham perusahaan bagus suatu saat pasti menghasilkan untung telah menjadi keyakinan utama investor modern, besar dan kecil. Loeb tidak setuju dengan ide ini.
To Loeb, the stock market is too fickle and too irrational to provide any security to the rational stockpicker who buy stocks on the company's merits. Analyzing companies a la Graham is as useless as giving medical check-ups to soldiers in the foxholes—with all the mortars being lobbed in, their vital signs tell you nothing about their chances for survival.
Bagi Loeb, bursa saham terlalu berubah-rubah dan terlalu tidak rasional untuk memberikan rasa aman bagi pemilih saham rasional yang membeli saham berdasarkan nilai-nilai perusahaan. Menganalisa perusahaan dengan cara (Benjamin) Graham adalah sama tidak bergunanya seperti melakukan check-up medis pada tentara di medan perang—dengan peluru dan bom beterbangan, kondisi kesehatan tentara-tentara tersebut tidak bisa dijadikan acuan keselamatan mereka.
--John Rothchild di Foreword buku The Battle for Invesment Survival
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Ide memegang saham perusahaan bagus suatu saat pasti menghasilkan untung telah menjadi keyakinan utama investor modern, besar dan kecil. Loeb tidak setuju dengan ide ini.
To Loeb, the stock market is too fickle and too irrational to provide any security to the rational stockpicker who buy stocks on the company's merits. Analyzing companies a la Graham is as useless as giving medical check-ups to soldiers in the foxholes—with all the mortars being lobbed in, their vital signs tell you nothing about their chances for survival.
Bagi Loeb, bursa saham terlalu berubah-rubah dan terlalu tidak rasional untuk memberikan rasa aman bagi pemilih saham rasional yang membeli saham berdasarkan nilai-nilai perusahaan. Menganalisa perusahaan dengan cara (Benjamin) Graham adalah sama tidak bergunanya seperti melakukan check-up medis pada tentara di medan perang—dengan peluru dan bom beterbangan, kondisi kesehatan tentara-tentara tersebut tidak bisa dijadikan acuan keselamatan mereka.
--John Rothchild di Foreword buku The Battle for Invesment Survival
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Subscribe to:
Posts (Atom)


